16 Nov 2016

Manadonese

#Chapter one

Dapur baru, teman baru, petualangan baru..

Kota Manado dengan view jembatan soekarno / sumber:internet
                                *Landscape kota Manado dengan view jembatan soekarno /internet

Manado.., sejak pertama dikabarin via telepon bahwa saya akan menghabiskan waktu selama tujuh bulan dimanado, sudah terbayang hal-hal asik dan petualangan seru yang akan saya jumpai ketika nanti benar-benar landing disana. Selain agenda kerja dan bapasiar(jalan-jalan), ada misi sambung rasa dengan keluarga dari ibu saya yang sudah puluhan tahun tidak ketemu. Ya, meski terlahir sebagai orang manado saya merasa asing dengan kota ini, karena perjumpaan yang singkat. Terakhir saya injak  kota nyiur melambai ini sekitar tahun 1986, merasakan taman anak-anak walau hanya sebentar didesa tompaso baru. Dan itu dulu, saat semua masih hitam putih dan banyak yang terlewat dari ingatan masa kecil saya dulu. Nah sekarang moment yang tepat untuk mengulang kembali nostalgia itu, sekali menyelam sambil pipis dicelana begitu kata pepatah lama,wkwkk.. memanfatkan kesempatan yang ada,  tiba-tiba telepon ditutup! Ya saya akan dikontrak sebagai konsultan dari instansi pemerintah daerah Kota Manado untuk membantu korban bencana. Dapur baru, teman baru, dan petualangan baru, asik-asik yes!

Tinggal satu atap bersama kawan-kawan baru yang senasib sebagai anak rantau, terpisah dari keluarga dirumah, saya seakan throwback ke masa kuliah dulu dimana kerinduan pada guling dirumah jadi semacam obat  untuk lebih semangat dan pantang menyerah dalam bekerja. Saya berjumpa dengan kawan-kawan hebat disini dengan basic keilmuan yang beragam, mulai dari insinyur, ahli social & budaya, ekonomi, ahli hukum sampai ahli pemetaan semua lengkap, prinsip saya banyak teman banyak pengalaman yang didapat. Dimobilisasi pun dari daerah yang berbeda, mulai dari makassar, palu, medan, Jakarta dan Surabaya,  tetapi misinya sama membahagiakan keluarga dirumah.. asik joss!


       (menghabiskan malam diwarung kopi sambil menyantap kudapan lokal pisang goroho, ajiib)

Saat weekend datang, ada hal yang paling ditunggu-tunggu untuk melepas penat sehabis bekerja, jalan-jalan bersama keliling kota manado, menyusuri jalan Boulevard yang menjadi pusatnya kota Manado. Lalu singgah dikopi aceh jalan boulevard untuk menikmati kuliner lokal yang menjadi favorit kami kopi susu dan pisang goroho, selain spot pusat jajanan dijalan malalayang tepi pantai dengan menu yang sama, ah indahnya..

Tujuh bulan terasa singkat rasanya untuk kota dengan potensi  pariwisata yang beragam, mulai dari alamnya, kepulauannya, pantainya, bawah lautnya, budayanya, sejarahnya, adventure-nya, semua ada disini. Belum ditambah dengan pesona gadis-gadis manado yang kepopulerannya sudah terdengar sampai ke ibu kota, hehe..

Landscape teluk manado, gunung manado tua, bunaken, siladen dan nain..

                (lanscape teluk Manado, Gunung Manado tua, P. Bunaken, Siladen dan Nain)

Saya pun beradaptasi dengan cepat, dengan budaya lokalnya maupun dengan tradisi setempat juga kebiasaan-kebiasaan unik warga manado. Seperti orang manado suka bagate (minum minuman keras) karena memang disana banyak terdapat pohon aren (seho) yang menghasilkan saguer dan cap tikus, minuman lokal yang disetiap acara pesta pasti hadir menghangatkan suasana, hehe.

 Manado juga terkenal dengan kelezatan kulinernya, yup! masalah kuliner manado memang juara, selain terkenal pedasnya orang manado yang kebanyakan suku minahasa adalah pemakan apa saja, sampai ada pasar extrim yang paling hits ditomohon yang menjual berbagai macam daging hewan, mulai dari kelalawar, babi, ular, monyet, tikus, biawak, anjing dan berbagai macam hewan predator lainnya yang bagi saya mungkin tidak biasa tapi tidak untuk tradisi yang ada diminahasa.  Jika ada ‘pengucapan syukur’ seperti thanksgiving dinegara paman sam, semua makanan tersedia dimeja makan, untuk tamu  muslim biasanya tersedia meja khusus yang makanannya steril alias halal. Saya teringat ucapan kawan lokal saya, ‘dimanado orang makan bukan sampai kenyang tapi sampai lelah..’ Mmm.. coba itu! Orang manado kuat makan..

Si tou timou tumou tou..
Selain makanan, alamnya, minuman kerasnya serta gadis-gadisnya yang terkenal itu, saya juga tertarik dengan nuansa toleransi umat beragamannya yang tinggi, dimana mayoritas umat nasrani dimanado sangat menghargai umat agama lain yang minoritas, seperti ungkapan khas warga manado ‘torang samua basodara’. Hal ini yang membuat saya banyak belajar sebagai minoritas dikota ini. Ada falsafah hidup orang manado yang diterjemahkan dari gagasan Dr Sam Ratulangi  Si tou timou tumou tou, yang kurang lebih artinya ‘Manusia baru dapat disebut manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia’ falsafah ini yang mendasari keharmonisan antar umat beragama di kota ini.

 Ditunjang dengan budaya bakusedu (rasa humor yang tinggi) warga manado suka becanda, membuat segala sesuatu tidak ditanggapi secara belebihan. Dengan humor, warga kawanua (sebutan orang lokal) tidak  mudah tertekan/stress dan bisa lebih menikmati hidupnya. Tersenyum atau tertawa karena humor adalah salah satu bentuk ‘penyaluran’ stress yang positif, paling murah dan mudah, itu yang saya lihat dalam budaya bakuseduala-ala manado. hehe


         (Bukit kasih ditomohon, lambang kerukunan umat beragama di sulawesi utara )

Larut dalam suasana kota paling utara disulawesi, menikmati suasana lain yang berbeda dari kebiasaan saya jatuh hati pada pulau ini. Lahir pengalaman baru, cerita baru, kawan baru yang menempa kesadaran saya, bahwa kesadaran mencintai bangsa sendiri adalah kesadaran untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Ya, cerita tujuh bulan saya dikota ini memang terasa singkat, tapi dari hal itu saya percaya bahwa setiap perjalanan layak untuk diceritakan minimal buat diri saya sendiri sebagai penyemangat dan motivasi diri.

Meski ada kenangan yang tertinggal dikota ini, sampai waktunya akan ku ulang lagi..
"ta cinta sekali ni kota, ta so nimau mo pulang ibukota.." i'm gonna miss you guys... :'(

Bersambung..