13 Mar 2013

Tantangan Menembus Laos, Long Way Down..!

Ini masih cerita blusukan saya di 5 Negara 11 Kota Asia Tenggara, bagian tiga Kota ke empat..


Tantangan menembus Laos Negara yang juga menganut paham komunis sungguh nyata didepan mata mengetes mental dan semangat saya dalam petualangan di indochina, benar benar seperti tragedi plus uji nyali. Memasuki Laos seperti berada diplanet lain mirip Vietnam, bahasa dan aksaranya berbeda juga wajah penduduknya hampir – hampir sama sungguh membuat saya sedikit shock. Tapi disinilah indahnya traveling, menjadi tantangan tersendiri untuk bisa meresapi dan menikmati budaya dan kehidupan warganya dari dekat. 

Cerita Ini dimulai saat saya membeli tiket Bus antar Negara dari Hanoi menuju Vientiane ibu kota laos saya bayar 23 USD hasil tawar menawar dengan salah satu agen bus di Old Quarter yang berada dipusat Kota Hanoi, tarif berbeda mereka kenakan terhadap wisatawan eropa dan amerika sekitar 30-40 USD. Perjalanan lintas negara ini menggunakan Sleeper Bus, Bus yang tidak pernah saya jumpai di Republik Uye. 

Sungguh waktu yang panjang tidak terasa membosankan dengan bus ini, karena setiap penumpang bisa tidur selonjoran disetiap bangku yang sudah didesain seperti tempat tidur lengkap dengan bantal dan selimutnya. Uniknya sebelum naik ke atas bus, seluruh penumpang diwajibkan membuka sepatu atau alas kaki dan menyimpannya didalam pelastik yang telah disediakan seperti saat kita mau masuk Masjid ada batas sucinya, jadi kondisi didalam bus steril dan nyaman, tapi sedkit aneh buat saya, hehe..

13658519222001909845 
( Suasana didalam Sleeper Bus. Semua enjoy dengan posisi masing-masing ) 

Saat berada diterminal bus Kota Hanoi ada 2 traveler yang wajahnya mirip melayu memperhatikan saya dan tas ransel yang saya kenakan, setelah beberapa saat akhirnya salah seorang dari mereka menghampiri saya dan bertanya “dari indonesia ya? “ iya” jawab saya,, “saya Ikbal dari malaysia bersama teman saya Azam sambil memperkenalkan diri” . Ternyata dari tadi mereka memperhatikan merk ransel yang saya gunakan Eiger, dan mereka cukup familiar dengan Eiger peralatan outdor buatan bandung-indonesia. Selamat lah saya punya teman dengan bahasa yang hampir sama tapi beda sejarah, cukup terhibur dengan bahasa melayu lidah saya tidak kaku lagi.

Bus pun meluncur membelah malam dari terminal dipusat kota hanoi pukul 08.00 malam waktu komunis, dan sopirnya masih tetap setia mengangkut penumpang disetiap pemberhentian bus. Didalam sleeper bus semua penumpang terlelap dengan mimpinya masing-masing dan saya masih terjaga bersama malam yang selalu menjanjikan untuk dinantikan. Sambil melihat kawan baru dari Malaysia sedang bermain kartu poker guna membunuh waktu didalam perjalanan.

1365852165158015156
 (Killing time, membunuh waktu sembari bermain kartu bersama teman baru diperjalanan )

1365852505565175750 
(Suasana pagi hari diperbatasan imigrasi Vietnam menuju Laos. Masih diselimuti kabut tebal. brrrrgg.. )

Paginya sekitar pukul 09.00 masih waktu komunis, bus berhenti disebuah pos jaga dan saya terbangun oleh hawa dingin yang menggigit, cukup membuat daging mengkerut. Cuaca diluar diselimuti kabut tebal jarak pandang hanya sekitar 15-20 meter sisanya tertutup kabut. Dan ternyata kami sudah sampai di perbatasan imigrasi Vietnam menuju Laos. Semua penumpang di haruskan turun oleh sopir bus untuk pengecekan dokumen imigrasi, saya dan teman dari malaysia berjalan kaki menuju imigrasi Vietnam untuk pengecekan passport.

13658526732063740188 
( Suasana di pos imigrasi Vietnam, wisatawan antri untuk pengecekan passport untuk meninggalkan Vietnam )

Setelah passport saya serahkan ke petugas imigrasi, tak lama kemudian nama saya dipanggil dan diminta membayar 25 ribu dong atau sekitar 12 ribu rupiah, meskipun sebenarnya info dari kedutaan Vietnam di Jakarta gratis tapi ya sudahlah cuma 12rb Rupiah ini pikir saya. Karena mata uang dong saya sudah habis saya memberikan satu lembar pecahan 1 USD dan diterima dengan senyum oleh petugas imigrasi Vietnam lalu “cetookk” passport saya distempel untuk bisa meninggalkan Negara komunis tersebut.  

1365852896542590708 
( Petugas imigrasi Vietnam sedang mengecek satu persatu passport wisatawan )

Berjalan kaki menuju pos imigrasi Laos cukup membuat badan kembali hangat meski cuaca diselimuti hawa dingin, sekitar 10 menit berjalan kaki saya tiba di pos imigrasi Laos untuk pengecekan passport dan visa on arrival bagi wisatawan asing. Bagi traveler Asia Tenggara free (bebas biaya masuk) untuk visa tinggal sebulan. Namun di Imigrasi laos petugas masih meminta kutipan 3 USD lebih besar dari imigrasi Vietnam, saya tak tahu untuk apa tapi karena saya tamu di Negara tersebut maka saya pun harus mengikuti aturan tuan rumah dan berusaha menjadi tamu yang baik, maka uang 3 USD saya keluarkan dari dalam dompet dengan muka kecut (^.*)

1365853001491120739 
( Semua penumpang diwajibkan turun berjalan kaki keluar dari Negara Vietnam untuk masuk Ke laos, sekitar 10 menit berjalan kaki.)

Sambil menunggu pemeriksaan imigrasi selesai saya berjalan disekeliling kantor imigrasi laos yang letaknya ditengah hutan dataran tinggi masuk dalam wilayah Nam Phao kota kecil diperbatasan Laos yang juga bersebelahan dengan Republik Rakyat Cina. Setelah pemeriksaan imigrasi selesai, semua penumpang kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke kota Vientiane Ibu Kota Laos yang masih sekitar 9 jam perjalanan.

1365853155373069175 
( Kantor Imigrasi Laos yang letaknya persis ditengah hutan kota kecil Nam Phao.)

Pemandangan di kiri kanan jalan selama 2 jam didominasi oleh sungai dan pegunungan, sehingga kondisi lelah dan gelisah terkonversi menjadi suasana petualangan mirip mirip sharina, (wkekekkk..) Dan memang lalu lintas didaerah perbatasan sangat sepi hanya beberapa kendaraan yang lewat menambah suasana tegang perjalanan.  

1365853285472895958 
( Pemandangan pegunungan setelah masuk Imigrasi Laos, menyejukan mata.)

Puncaknya saat bus kami mengalami pecah ban entah di KM berapa yang jelas masih jauh dari kota Vientiane, waktu menunjukan pukul 12 siang dan suasana disekitarnya hanya terdapat beberapa rumah penduduk selebihnya tanah gersang diselimuti padang rumput tandus serta semak belukar. Saya bertanya kepada sopir, How long time to Vientiane? Sambil garuk garuk kepala si sopir yang orang Vietnam mengacungkan enam jarinya, menggunakan bahasa isyarat lebih kurang sekitar 6 jam perjalanan lagi, lengkap sudah..! 

1365853634920397461 
( Dijalan ini detik-detik sebelum Bus yang saya tumpangi mengalami pecah ban)

Saya pun terpaksa menunggu sambil melihat kenek dan sopir mengganti ban serep yang sudah disiapkan, dan ajaibnya ban serep yang semestinya menjadi penyelamat justru tidak bisa digunakan karena sudah masuk masa pensiun alias ban reject yang tidak layak pakai. Lalu..? dalam keadaan pasrah, gerah karena cuaca yang panas ditambah daerah yang sepi ditengah gurun laos saya dipaksa menerima keadaan tidak nyaman ini sambil terus menunggu bantuan dari bengkel terdekat, yang dekatnya 3 jam lebih baru datang pertolongan itu.. OMG !. Setelah menunggu selama 3 jam akhirnya mobil pick up datang membawa ban serep pengganti dan bus pun kembali meluncur menuju Vientiane persis jam 3 sore lebih sedikit. 

13658537141263293934  
( Ganasnya jalan laos dengan aspal yang panas ditambah cuaca terik membuat bus mengalami pecah ban.)

Didalam bus saya memilih tidur sambil menahan sedikit rasa lapar karena belum makan dari pagi hanya sedikit bekal pisang, snack dan roti yang saya beli di Hanoi tapi cukup membantu. Saran buat traveler buah pisang sangat berguna untuk bekal perjalanan jauh menggunakan bus selain murah kaya kandungan serat, vitamin dan mineral juga mengenyangkan. Saya terbangun dengan bunyi klakson yang ramai saat bus berhenti di southern bus terminal (terminal dok-dok) ditengah kota Vientiane. Hari sudah gelap dan jam menunjukan pukul 8 malam, berarti sekitar 24 jam persis saya berada di dalam bus, piuuffh.. Kemudian saya bertanya kepada kawan ikbal dari Malaysia apakah langsung melanjutkan perjalanan ke kota Luang Prabang atau menginap di Kota Vientiane. Sebab saya juga tidak lama di kota ini karena tujuan selanjutnya sudah dekat, Bangkok !

1365853958793287017  
(Pemandangan malam hari disisi sungai mekong di daerah Namphaw Fountain di jalan Setthathirath road. )

karena lelah bercampur lapar dan sudah seharian berada didalam bus, sedikit mabok darat juga akhirnya mereka memutuskan menginap semalam di Vientiane untuk besoknya melanjutkan perjalanan ke Luang Prabang. Tanpa membuang waktu saya langsung setuju dan ikut menginap dengan pertimbangan bisa share biaya kamar untuk bertiga jadi lumayan irit. Kami pun naik tuk-tuk dengan membayar 2 USD/orang dari terminal dok-dok menuju area turis yang berpusat di Namphaw Fountain di jalan Setthathirath road persis di sisi sungai Mekong Kota Vientiane. Saya lupa nama hostelnya, kami dapat privat room 12 USD/malam dibagi tiga, satu kamar terdapat tiga ranjang pas buat kami bertiga. Setelah mandi dan bersih-bersih kami lalu mencari makan malam di pesisir sungai Mekong sambil bercerita pengalaman perjalanan selama di Vietnam.

13658540921959189705  
(Bangunan yang menyerupai kuil berada didalam taman pesisir sungai mekong.)

Meskipun Vientiane merupakan Ibu Kota dari Negara Laos tapi pariwisata di kota ini kurang berkembang, masih dibawah Luang Prabang yang lebih menawarkan banyak pilihan destinasi wisata. Dan juga karena waktu yang sedikit saya melewatkan objek wisata di Kota Vientiane seperti Patuxai Gate sebuah tempat yang mirip dengan Arc de Triomphe di Paris, juga kompleks candi Pha That Luang sebuah bangunan candi kuno dengan emas yang menyelimuti pagodanya.
Esok paginya sekitar jam 10 saya kemudian diantar oleh Ikbal dan Azham menggunakan sepeda yang kami sewa di hostel tempat kami menginap menuju central bus station, terminal khusus dipusat kota Vientiane untuk menuju Nongkhai atau Udon Thani di wilayah Thailand yang tidak jauh dari hostel kami menginap sekitar 15 menit naik sepeda. Dan saya pun membeli tiket bus Vientiane-Nongkhai (Thailand) seharga 17 ribu rupiah, kurang lebih 2 jam perjalanan hanya sekedar transit di Nongkhai lalu kemudian menuju Bangkok. 

136585420546615018 
(central bus station, tempat kami berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing, saya menuju Bangkok kawan itu menuju Luang Prabang masioh di Negara Laos.)

Bersambung.., sampai ketemu di Bangkok..!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar